Ekonomi

Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.

Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi
Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas. Beberapa faktor yang memengaruhi sehingga jumlah kebutuhan seseorang berbeda dengan jumlah kebutuhan orang lain:
Faktor Ekonomi
Faktor Lingkungan Sosial Budaya
Faktor Fisik
Faktor Pendidikan
Faktor moral

Tindakan , Motif , dan Prinsip Ekonomi

[sunting]Tindakan Ekonomi
Tindakan ekonomi adalah setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling baik dan paling menguntungkan. misalnya: Ibu memasak dengan kayu bakar karena harga minyak tanah sangat mahal. Tindakan ekonomi terdiri atas dua aspek, yaitu :
Tindakan ekonomi Rasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan dan kenyataannya demikian.
Tindakan ekonomi Irrasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan namun kenyataannya tidak demikian.
[sunting]Motif Ekonomi
Motif ekonomi adalah alasan ataupun tujuan seseorang sehingga seseorang itu melakukan tindakan ekonomi. Motif ekonomi terbagi dalam dua aspek:
Motif Intrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas kemauan sendiri.
Motif ekstrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas dorongan orang lain.
Pada prakteknya terdapat beberapa macam motif ekonomi:
Motif memenuhi kebutuhan
Motif memperoleh keuntungan
Motif memperoleh penghargaan
Motif memperoleh kekuasaan
Motif sosial / menolong sesama
[sunting]Prinsip Ekonomi
Prinsip ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang didalamnya terkandung asas dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. Prinsip ekonomi adalah dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil tertentu, atau dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.
READMORE
 

Ekonimi

Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi barang dan jasa. Istilah "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.

Manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi
Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas. Beberapa faktor yang memengaruhi sehingga jumlah kebutuhan seseorang berbeda dengan jumlah kebutuhan orang lain:
Faktor Ekonomi
Faktor Lingkungan Sosial Budaya
Faktor Fisik
Faktor Pendidikan
Faktor moral

Tindakan , Motif , dan Prinsip Ekonomi

[sunting]Tindakan Ekonomi
Tindakan ekonomi adalah setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling baik dan paling menguntungkan. misalnya: Ibu memasak dengan kayu bakar karena harga minyak tanah sangat mahal. Tindakan ekonomi terdiri atas dua aspek, yaitu :
Tindakan ekonomi Rasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan dan kenyataannya demikian.
Tindakan ekonomi Irrasional, setiap usaha manusia yang dilandasi oleh pilihan yang paling menguntungkan namun kenyataannya tidak demikian.
[sunting]Motif Ekonomi
Motif ekonomi adalah alasan ataupun tujuan seseorang sehingga seseorang itu melakukan tindakan ekonomi. Motif ekonomi terbagi dalam dua aspek:
Motif Intrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas kemauan sendiri.
Motif ekstrinsik, disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan tidakan ekonomi atas dorongan orang lain.
Pada prakteknya terdapat beberapa macam motif ekonomi:
Motif memenuhi kebutuhan
Motif memperoleh keuntungan
Motif memperoleh penghargaan
Motif memperoleh kekuasaan
Motif sosial / menolong sesama
[sunting]Prinsip Ekonomi
Prinsip ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang didalamnya terkandung asas dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal. Prinsip ekonomi adalah dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil tertentu, atau dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin.
READMORE
 

Anropologi


Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Pengertian
1.1 Definisi Antropologi menurut para ahli
2 Sejarah
2.1 Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
2.2 Fase Kedua (tahun 1800-an)
2.3 Fase Ketiga (awal abad ke-20)
2.4 Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
3 Lihat pula
4 Pranala luar
[sunting]Pengertian

Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.
[sunting]Definisi Antropologi menurut para ahli
William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Dengan, demikain antropologi merupakan hal yang mempelajari seluk-beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia.Dapat dilihat dari perkembang pada masa saat ini, yang merupakan salah dari fenomena- fenomena yang terjadi ditengah- tengah masyarakat sekarang ini.
[sunting]Sejarah

Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.
Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
[sunting]Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)


Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi.
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
[sunting]Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
[sunting]Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
[sunting]Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp
READMORE
 

Penyesalan

My mom only had one eye. I hated her... she was such an embarrassment.
Ibuku hanya mempunyai satu buah mata.Aku membencinya…Dia sangatlah memalukan
She cooked for students & teachers to support the family.
Dia bekerja memasak di sekolah untuk murid dan guru untuk membantu menafkahi keluarga
The next day at school one of my classmates said,"EEEE, your mom only has one eye!"
Hari berikutnya di sekolah salah satu teman kelasku berkata,"EEEE, Ibumu hanya punya satu mata, ya!"
So I confronted her that day and said, " If you're only gonna make me a laughing stock, why don't you just die?!!!"
Lalu hari itu aku memakinya dengan berkata, “Kalau kamu hanya membuatku malu, kenapa kamu tidak mati saja?!!!”
My mom did not respond!!!
Ibuku hanya diam seribu kata !!!
I was oblivious to her feelings…
Aku melupakan perasaannya
So I studied real hard, got a chance to go to Jakarta to study.
Aku belajar sangat giat, agar punya kesempatan
untuk belajar ke Jakarta
One day, a letter regarding a school reunion came to my house.
Suatu hari, datanglah undangan reuni sekolah datang kerumahku
After the reunion, I went to the old shack just out of curiosity!!!.
Setelah acara reuni, aku pergi ke sebuah gubuk tua hanya untuk mengusir rasa keingintahuanku
My neighbors said that she died.
Tetanggaku berkata bahwa ibuku telah meninggal
They handed me a letter that she had wanted me to have…
Tetanggaku memberi sepucuk surat yang dititipkan ibu untukku…
"My dearest son, I think of you all the time..
“Anakku tersayang, ibu selalu memikirkanmu setiap saat..
I was so glad when I heard you were coming for the reunion.
Ibu sangat senang ketika mendengar kamu datang pada acara reuni
But I may not be able to even get out of bed to see you.
Tetapi Ibu tidak mampu bahkan untuk bangkit dari tempat tidur untuk melihat wajahmu
I'm sorry that I was a constant embarrassment to you when you were growing up.
Maafkan Ibu yang selalu membuat kamu malu selama dari dulu hingga sekarang
You see........when you were very little, you got into an accident, and lost your eye.
Dulu ketika kamu masih sangat kecil, kamu mendapat kecelakaan yang membuatmu kehilangan mata.
As a mother, I couldn't stand watching you having to grow up with one eye.
Sebagai seorang ibu, Aku tidak tega melihat anakku tumbuh hanya dengan satu mata
So… I gave you mine…..
Lalu….. Ibu memberikan mata ibu padamu
I was so proud of my son who was seeing a whole new world for me, in my place, with that eye.
Ibu sangat bangga ketika anakku mampu melihat dunianya yang baru, di tempat ini, dengan mata yang ibu berikan
…With my love to you…
…Dengan segenap cintaku padamu…
…Your mother…
…I B U M U…
READMORE
 

Kisah Tk Sapai

Ku pandang satu bintang yang berpijar sempurna
Ke dua bola mata terpana
Menyaksikan binar sinar cahyanya
Bagai pelangi yang mengisyaratkan
Akan hati yang ingin ku damba dan ku cinta
Ku coba terbang ‘tuk meraih satu bintang
Karena ingin kuraih dia dalam gengaman
Ku terus terbang dan terbang
Namun dalam sekejap aku tercengang
Mengapa ku tak mampu mengepakkan sayap ‘tuk meraihnya
Sunguh pilunya hatiku
Begitu sulitnya aku meraih bintang-Mu
Apakah dia tercipta bukan untukku
Karena ku tahu dia “ begitu jauh “ dariku
Terdengar dentang jam melaju waktu
Membuatku hanya mampu duduk terpaku
Ntah mengapa bulu sayapku kian terasa
Rintik hujan gerimis seakan menitikkan air mata
Mengutarakan akan hatiku yang terluka
Dengan hanya bisa memendam sejuta kasih dan cinta
Mungkinkah tiada lagi yang bisa menggantikan dia di hati
Akupun tak mampu lagi berlari dari kenyataan ini
Karena ku mencintainya dengan sepenuh hati
Kini tiada lagi penopang diri
Mungkin inilah takdir Illahi
Kasih tak sampai di genggaman hati
READMORE
 

HIDUP ADLAH ANUGRAH

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!
READMORE
 

persahabatan

PERSAHABATAN
Mencari persahabatan itu seperti kita memasukkan benang dalam lubang jarum…
Sulitnya mencari seorang sahabat itu bisa digambarkan ketika kita berusaha memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Ada saja halangan atau kendala saat kita berusaha memasukkan benang dalam jarum, ada angin, mata kita yang kurang fokus, tempat yang kurang terang dan lain-lain.
Namun setelah kita berhasil melawan kendala yang ada, akhirnya benang bisa masuk ke dalam jarum, itulah saat-saat yang menggambarkan bahwa kita telah berhasil mendapatkan seorang sahabat. Setelah jarum dan benang telah bersatu, tibalah saatnya kita merajut..dalam hal ini kita sebagai jarum dan sahabat kita sebagai benang, bersama-sama merajut peristiwa-peristiwa manis dan indah sehingga menjadi rajutan indah berupa kenangan terindah di hidup kita….
Itulah Sahabat, seseorang yang kita peroleh dari pengorbanan dalam kehidupan kita. Yang awalnya pahit namun berakhir manis ^^
READMORE
 

Rendah Hati Sang Panglima

Sejak pagi, Hasan dan Husein menangis.

"Diamlah, Anakku," kata Fatimah ," sebentar lagi ayahmu datang ," Ayah mereka , Ali bin Abi Thalib, sedang pergi.
Namun Hasan dan Husein tak mau berhenti menangis. Malah semakin keras.

Fatimah bergegas mencari sesuatu yang bisa dimasak. Tetapi malang sekali,di rumah itu tidak ada makanan sedikit pun.
Pasti Hasan dan Husein sangat lapar. Memang, keluarga Ali bin Abi Thalib hidup dalam kekurangan. Bahkan mereka sering dalam kelaparan.

"Jangan menangis, anakku sayang," bujuk Fatimah.
Fatimah memeluk kedua putranya dengan kasih sayang. Ia menyenandungkan lagu ninabobo kepada keduanya. Tangis Hasan dan Husein mulai mereda. Tidak berapa lama kemudian,Ali bin Abi Thalib tiba di rumah. " Apa ada makanan untukku, Fatimah ?" tanya Ali bin Abi Thalib. Fatimah menggeleng keras. Sudah beberapa hari Fatimah tidak memasak karena tidak ada sesuatu yang dapat dimasak.

"Hasan dan Husein menangis karena lapar," sahut Fatimah seraya memandang kedua putranya. Ali bin Abi Thalib tercengang. Dipanggilnya Hasan dan Husein.

"Kemarilah anak-anakku," panggil Ali seraya tersenyum lebar. Hasan dan Husein berhamburan ke pangkuan ayahnya. Tawa mereka pun terdengar.

"Ayah akan mencari makanan. Kalian ikut ?" kata ali.
Alangkah senang hati Hasan dan Husein diajak jalan- jalan oleh ayahnya .

"Tentu! kami mau ikut!" seru Hasandan Husein bersamaan.
Lalu Alibin Abi Thalib menuntun kudua putra kecilnya. Sepanjang jalan Ali bin Abi Thalib menghibur anak-anknya dengan cerita -cerita yang lucu. Hasan dan Husein tampak Gembira dan melupakan perut mereka yang lapar.

Fatimah tersenyum.hatinya lega melihat anak-anaknya kembali ceria. Ali bin Abi Thalib suaminya memang begitu mengagumkan. Fatimah tidak pernah merasa kekurangan walau hidupnya serba kekurangan. Bukankah Ali bin Abi Thalib seorang Panglima perang yang gagah berani? Yang selalu memenangkan peperangan yang besar.
Rasulullah sering menyerahkan tugas-tugas yang membawa panji-panji Islam kepadanya.
Kemuliaan di sisi Allah jauh lebih besar dibandingkan kemewahan yang melimpah.

Ali bin Ali Thalib membawa Hasan dan Husein ke rumah seorang Yahudi.
"Tuan, apa anda membutuhkan orang untuk menimbakan air?
Tanya Ali. Orng Yahudi itu terheran-heran melihat Ali bin Abi Thalib.

"Bukankah Tuan adalah Ali bin Abi Thalib, seorng Panglima perang dan seorang menantu Rasulullah?" Orang Yahudi balik bertanya. Ia tahu kalau orang di hadapannya itu adalah seorang suami dari putri Rasulallah, pemimpin umat.

"Betul."

"Kenapa Tuan meminta pekerjaan kepada saya ?"

"Kedua putraku sedang lapar. Aku memerlukan beberapa butir Kurma." Ali memandangi kedua anaknya. Hasan dan Husein tampaktampak bermain-main dibawah sebuah pohon.

"Anda boleh memberi upah sebutir Kurma dari setiap satu timba air".
Aneh, orang seperti Ali bin Abi Thalib mau menerima upah untuk memberimakan putranya. Padahal, ia dan keluarganya mempunyai kedudukan yang tinggi dan disegani oleh penduduk Madinah.

"Baiklah, aku setuju," kata orang Yahudi. Setiap satu timba air, Ali bin Abi Thalib mendapat sebutir kurma yang manis.

Ali bin Abi Thalib lantas mengambil air dengan timbanya. Setiap butir kurma yang didapatkannya pada Hasan dan Husein.
Dengan gembira, kedua putranya memakan buah kurma.
Terkadang mereka saling berebut dan Ali bin Abi Thalib melerainya. Ali tidak memperdulikan keletihan badannya karena bekerja seberat itu. Semua dilakukannya dengan hati senang, demi kedua putranya yang amat disayanginya.

"Apa kalian merasa kenyang?" tanya Ali.
Hasan dan Husein mengangguk.
Ali menyisihkan beberapa butir kurma untuk Fatimah. Sementara ia tidak memakan sebutir kurmapun padahal perutnya sangat lapar.

Ali bin Abi Thalib mengajak Hasan dan Husein pulang. Mereka bercanda sepanjang jalan. Saling berkejaran dan tertawa gembira. Hasan dan Husein selalu senang bila bepergian dengan ayahnya mereka.

Di pintu rumah, Fatimah menyambut mereka dengan senyum bahagia. Hasan dan Husein pun menceritakan kepada ibunya kalau mereka baru saja makan buah kurma yang manis.

"Kemana Tuan membawa mereka? " tanya Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib.

"Ke rumah orang Yahudi. Disana aku mendapat upah kurma yang manis dari pekerjaanku menimba air," jawab Ali bin Abi Thalib.

Fatimah tersenyum bahagia. Ia sangat bangga pada Ali bin Abi Thalib karena dapat menyenangkan hati kedua anaknya. Sekarang Hasan dan Husein tertidur pulas di atas dipan. Perlahan-lahan Fatimah menyelimuti kedua putranya sambil membisikkan sesuatu.

" Anakku, besok kita berpuasa ya, karena kita tidak memiliki makanan lagi, bisik Fatimah. Rupanya bisikan itu terdengar oleh Ali. Maka, Ali pun mendekati kedua putranya yang sedang terlelap.

"Anakku, nanti ayah akan bekerja lagi agar kalian tidak menangis lagi karena lapar, "kata Ali seraya tersenyum.

Ali bin Abi Thalib tidak merasa malu mengerjakan pekerjaan kasar walaupun ia seorang panglima perang yang di takuti musuh dan disegani teman.
READMORE
 

Tak Punya Pendirian

Ukbah bin Abi Mu'aith adalah seorang pemuda Quraisy yang baik. Walaupun belum masuk Islam, ia berteman baik dengan Nabi Muhammad Saw. Hampir setiap hari Ukbah bertemu Rasulullah. Sekedar mengobrol atau bertukar pikiran.

"Wahai Muhammad, aku berterima kasih padamu. Engkau sudah bersedia menjadi temanku," kata Ukbah suatu siang. Ukbah gembira bukan main. Siapa yang tak bangga punya teman yang sangat terhormat seperti Muhammad? Yang disebut sebagai Nabi dan Rasul Allah itu? Bukankah Muhammad itu seorang yang agung dan berkedudukan tinggi? Terlebih lagi karena dirinya belum masuk agama yang dibawa Muhammad. Akan tetapi, Nabi Muhammad tidak pernah memusuhinya. Betapa Ukbah merasa bangga dapat berteman baik dengan Nabi Muhammad!

"Muhammad,"kata Ukbah.

"Apakah kau akan datang ke rumahku, jika aku mengajakmu makan bersama di rumahku?"

"Boleh saja. Kalau itu tidak merepotkanmu,"kata Rasulullah. Benar bukan? Muhammad memang sangat baik. Ia menerima undangan Ukbah untuk makan di rumahnya.

Nabi Muhammad pun menepati janjinya memenuhi undangan Ukbah. Di rumahnya, Ukbah sudah menyiapkan hidangan yang istimewa. Aneka makanan yang lezat dan enak sudah disediakan. Ia pun melayani Nabi dengan sangat baik.

Sesudah bercakap-cakap, Ukbah mempersilakan Nabi untuk mencicipi makanan.

"Baiklah, aku ambil yang ini,"kata Nabi seraya meraih makanan di piring.

"Tentu. Silakan pilih apa yang kau suka,"sahut Ukbah.

Sebelum Nabi Muhammad memasukkan makanan ke mulutnya, Nabi Muhammad menoleh pada Ukbah.

"Aku akan memakan makanan dihadapanku ini, kalau kau mau mengucapkan dua kalimah syahadat," kata Nabi kemudian.

Mendengar ucapan Nabi itu, kontan Ukbah terhenyak. Kaget bukan main. Sebab, sejak Muhammad mengajarkan agama baru itu, Ukbah tidak ingin masuk Islam. Sedangkan dua kalimah syahadat adalah pernyataan bahwa seseorang telah masuk Islam. Ia tidak bermaksud meninggalkan agama berhala warisan leluhurnya.

"Bagaimana hai, Ukbah?"tanya Nabi membuyarkan kekagetan Ukbah. Ukbah hanya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan teman baiknya itu. Nabi Muhammad mengerti sikap Ukbah. Beliau tidak langsung pergi meskipun Ukbah tampak keberatan untuk menuruti permintaannya. Beliau tetap duduk di depan makanan yang terhidang itu.

Wahai Ukbah, apakah aku harus memakan makanan ini atau tidak? Kalau makan berarti kau harus mengucapkan dua kalimah syahadat," ulang Nabi.

Ukbah jadi merenung sejenak. Ah, tak enak rasanya menolak permintaan teman baik seperti Muhammad, batin Ukbah. Dan akhirnya Ukbah pun menuruti permintaan Nabi. Ukbah mengucapkan rukun Islam yang pertama itu. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim.

"Sekarang aku mau menikmati makanan yang kau hidangkan," kata Nabi setelah Ukbah mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sangat puas dengan hidangan yang disuguhkan sahabatnya itu. Lalu, beliau pun berpamitan pada Ukbah.

Beberapa waktu setelah kejadian itu Ukbah bertemu dengan sahabat lamanya, Ubay bin Khalaf. Segera diceritakan pertemuannya dengan Muhammad yang baik hati itu.

"Ubay, aku pun sudah masuk agama Islam,"kata Ukbah.

Ubay amat terkejut. "Bodoh! Ukbah, kau bodoh sekali!

Kenapa kau ikuti ajaran sesat Muhammad?! Muhammad itu seorang pembual besar! Islam yang disebarkannya hanya mengada-ada!" kata Ubay dengan sengit. Sejak dulu ia memang orang yang sangat membenci Nabi Muhammad.

"Apa kau sudah gila? Sampai meninggalkan ajaran nenek moyang kita?" sahut Ubay.

Merasa dirinya diperolok-olok dan dimaki-maki Ubay, hati Ukbah menjadi goyah.

"Hei Ukbah! Kalau kau tidak segera melepaskan ajaran Islam maka kau akan lepas dari ikatan masyarakat Quraisy!" ancam Ubay menakut-nakuti. Ukbah tambah cemas dan ketakutan.

"Ubay, bisakah kau menolongku membebaskan ikatan dua kalimah syahadat yang pernah kuucapkan itu?" tanya Ukbah.

"Ah, itu sih, gampang!" jawab Ubay.

"Datangilah Muhammad. Caci maki dia dan ludahi wajahnya. Kalau kau sudah melakukan semua itu berarti kau telah meninggalkan agama sesat yang dibawa Muhammad!" hasut Ubay.

Dengan tidak memikirkan akibatnya Ukbah pun menuruti perintah Ubay. Ia segera menemui Muhammad di rumahnya. Kemudian tanpa membuang waktu lagi Ukbah mencaci-maki Nabi Muhammad dan meludahi wajahnya.

Sebagai orang yang memiliki sifat penyabar, Muhammad tidak langsung membalas perbuatan Ukbah. Akan tetapi, disambutnya cacian, ludahan, dan penghinaan itu dengan ucapan,"Bila suatu hari kita bertemu lagi maka pedangku akan menebas lehermu," kata Nabi.

Ukbah kemudian meninggalkan tempat itu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Ubay. Diceritakannya kalau ia sudah melaksanakan perintah Ubay. Sambil tertawa senang Ubay memujinya sebagai orang yang sangat hebat. Namun, meskipun mendapat pujian selangit itu, hati kecil Ukbah merasa sangat terhimpit. Karena ia sudah melakukan perbuatan yang salah pada Muhammad, sahabat terbaiknya. Jiwanya pun jadi tersiksa.

"Hmmm......, kenapa dulu aku menuruti ajakan nabi itu? Tetapi, kenapa juga aku harus menuruti perintah si gila Ubay itu? Ah, hatiku benar-benar jadi kacau....," sesal Ukbah.

Apa yang di ucapkan Nabi Muhammad dulu, akhirnya terwujud juga. Mereka bertemu di kota Madinah. Waktu itu kebetulan Ukbah menjadi tawanan Nabi Muhammad, karena telah kalah dalam perang Badr. Rasulullah kemudian memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal lehernya.

Malang sekali nasib Ukbah, orang yang tidak mempunyai pendirian. Jiwanya amat mudah dipengaruhi orang lain dan bujukan syetan.
READMORE
 

Kendaraan Seorang Bijak

Matahari di padang pasir terasa membakar kulit. Hanya sesekali angin bertiup dan menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Cukup membuat seorang pemuda kerepotan mengurangi samudra pasir yang membentang luas. Namun, hatinya agak tenang. Unta yang di tungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya sanggup menempuh perjalanan yang jauh. Perbekalan yang dibawanya pun akan cukup membuatnya bertahan selama perjalanan. Masih separuh lagi perjalanan yang harus ditempuh pemuda itu.

"Mudah-mudahan, aku selamat sampai Makkah. Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini kurindukan," katanya penuh harap.

Panggilan rukun Islam kelima itulah yang membulatkan tekadnya. Mengarungi padang pasir yang terik.

Tiba-tiba, pemuda itu menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir.

Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini? Tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh mengundang bahaya.

Pemuda tersebut menghentikan untanya di dekat orang itu. Ternyata, ia seseorang lelaki tua yang berjalan terseok-seok di bawah terik matahari. Lalu, anak muda itu segera turun dari kendaraannya.

"Wahai, Bapak Tua. Bapak mau pergi ke mana?" tanyanya ingin tahu.

"Insya Allah, aku akan ke Baitullah," jawab orang tua itu dengan tenang.

"Benarkah?!" anak muda itu terperanjat. Apa orang tua itu sudah tidak waras? Ke Baitullah dengan berjalan kaki?

"Betul, nak, aku akan melaksanakan ibadah haji," kata lelaki tua itu pula.

"Masya Allah, Baitullah itu jauh sekali dari sini. Bagaimana kalau bapak tersesat atau mati kelaparan? Lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. Kalau berjalan kaki seperti bapak, kapan bapak bisa sampai ke sana?" pemuda itu tercenung.

Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara? Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya?

"Aku juga berkendaraan," kata lelaki tua itu mengejutkan.

Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, pak tua malah mengatakan dirinya memakai kendaraan.

Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki..., pikir si pemuda geli.

"Apa Bapak yakin kalau bapak memakai kendaraan?" tanya pemuda itu menahan senyumnya.

"Kau tidak melihat kendaraanku?" orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya.

"Kalau begitu, apa kendaraan yang bapak pakai?" tanyanya sambil tersenyum.

Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?

"Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama sabar," jawab orang tua itu tenang.

Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut.

"Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah," kata lelaki tua itu melanjutkan.

Mendengar kata-kata tersebut, si pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut.

"Maukah bapak naik kendaraanku? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama," ajak si pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu.

"Terima kasih, Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu," sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya.

Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya.
READMORE