Rendah Hati Sang Panglima

Sejak pagi, Hasan dan Husein menangis.

"Diamlah, Anakku," kata Fatimah ," sebentar lagi ayahmu datang ," Ayah mereka , Ali bin Abi Thalib, sedang pergi.
Namun Hasan dan Husein tak mau berhenti menangis. Malah semakin keras.

Fatimah bergegas mencari sesuatu yang bisa dimasak. Tetapi malang sekali,di rumah itu tidak ada makanan sedikit pun.
Pasti Hasan dan Husein sangat lapar. Memang, keluarga Ali bin Abi Thalib hidup dalam kekurangan. Bahkan mereka sering dalam kelaparan.

"Jangan menangis, anakku sayang," bujuk Fatimah.
Fatimah memeluk kedua putranya dengan kasih sayang. Ia menyenandungkan lagu ninabobo kepada keduanya. Tangis Hasan dan Husein mulai mereda. Tidak berapa lama kemudian,Ali bin Abi Thalib tiba di rumah. " Apa ada makanan untukku, Fatimah ?" tanya Ali bin Abi Thalib. Fatimah menggeleng keras. Sudah beberapa hari Fatimah tidak memasak karena tidak ada sesuatu yang dapat dimasak.

"Hasan dan Husein menangis karena lapar," sahut Fatimah seraya memandang kedua putranya. Ali bin Abi Thalib tercengang. Dipanggilnya Hasan dan Husein.

"Kemarilah anak-anakku," panggil Ali seraya tersenyum lebar. Hasan dan Husein berhamburan ke pangkuan ayahnya. Tawa mereka pun terdengar.

"Ayah akan mencari makanan. Kalian ikut ?" kata ali.
Alangkah senang hati Hasan dan Husein diajak jalan- jalan oleh ayahnya .

"Tentu! kami mau ikut!" seru Hasandan Husein bersamaan.
Lalu Alibin Abi Thalib menuntun kudua putra kecilnya. Sepanjang jalan Ali bin Abi Thalib menghibur anak-anknya dengan cerita -cerita yang lucu. Hasan dan Husein tampak Gembira dan melupakan perut mereka yang lapar.

Fatimah tersenyum.hatinya lega melihat anak-anaknya kembali ceria. Ali bin Abi Thalib suaminya memang begitu mengagumkan. Fatimah tidak pernah merasa kekurangan walau hidupnya serba kekurangan. Bukankah Ali bin Abi Thalib seorang Panglima perang yang gagah berani? Yang selalu memenangkan peperangan yang besar.
Rasulullah sering menyerahkan tugas-tugas yang membawa panji-panji Islam kepadanya.
Kemuliaan di sisi Allah jauh lebih besar dibandingkan kemewahan yang melimpah.

Ali bin Ali Thalib membawa Hasan dan Husein ke rumah seorang Yahudi.
"Tuan, apa anda membutuhkan orang untuk menimbakan air?
Tanya Ali. Orng Yahudi itu terheran-heran melihat Ali bin Abi Thalib.

"Bukankah Tuan adalah Ali bin Abi Thalib, seorng Panglima perang dan seorang menantu Rasulullah?" Orang Yahudi balik bertanya. Ia tahu kalau orang di hadapannya itu adalah seorang suami dari putri Rasulallah, pemimpin umat.

"Betul."

"Kenapa Tuan meminta pekerjaan kepada saya ?"

"Kedua putraku sedang lapar. Aku memerlukan beberapa butir Kurma." Ali memandangi kedua anaknya. Hasan dan Husein tampaktampak bermain-main dibawah sebuah pohon.

"Anda boleh memberi upah sebutir Kurma dari setiap satu timba air".
Aneh, orang seperti Ali bin Abi Thalib mau menerima upah untuk memberimakan putranya. Padahal, ia dan keluarganya mempunyai kedudukan yang tinggi dan disegani oleh penduduk Madinah.

"Baiklah, aku setuju," kata orang Yahudi. Setiap satu timba air, Ali bin Abi Thalib mendapat sebutir kurma yang manis.

Ali bin Abi Thalib lantas mengambil air dengan timbanya. Setiap butir kurma yang didapatkannya pada Hasan dan Husein.
Dengan gembira, kedua putranya memakan buah kurma.
Terkadang mereka saling berebut dan Ali bin Abi Thalib melerainya. Ali tidak memperdulikan keletihan badannya karena bekerja seberat itu. Semua dilakukannya dengan hati senang, demi kedua putranya yang amat disayanginya.

"Apa kalian merasa kenyang?" tanya Ali.
Hasan dan Husein mengangguk.
Ali menyisihkan beberapa butir kurma untuk Fatimah. Sementara ia tidak memakan sebutir kurmapun padahal perutnya sangat lapar.

Ali bin Abi Thalib mengajak Hasan dan Husein pulang. Mereka bercanda sepanjang jalan. Saling berkejaran dan tertawa gembira. Hasan dan Husein selalu senang bila bepergian dengan ayahnya mereka.

Di pintu rumah, Fatimah menyambut mereka dengan senyum bahagia. Hasan dan Husein pun menceritakan kepada ibunya kalau mereka baru saja makan buah kurma yang manis.

"Kemana Tuan membawa mereka? " tanya Fatimah kepada Ali bin Abi Thalib.

"Ke rumah orang Yahudi. Disana aku mendapat upah kurma yang manis dari pekerjaanku menimba air," jawab Ali bin Abi Thalib.

Fatimah tersenyum bahagia. Ia sangat bangga pada Ali bin Abi Thalib karena dapat menyenangkan hati kedua anaknya. Sekarang Hasan dan Husein tertidur pulas di atas dipan. Perlahan-lahan Fatimah menyelimuti kedua putranya sambil membisikkan sesuatu.

" Anakku, besok kita berpuasa ya, karena kita tidak memiliki makanan lagi, bisik Fatimah. Rupanya bisikan itu terdengar oleh Ali. Maka, Ali pun mendekati kedua putranya yang sedang terlelap.

"Anakku, nanti ayah akan bekerja lagi agar kalian tidak menangis lagi karena lapar, "kata Ali seraya tersenyum.

Ali bin Abi Thalib tidak merasa malu mengerjakan pekerjaan kasar walaupun ia seorang panglima perang yang di takuti musuh dan disegani teman.
READMORE
 

Tak Punya Pendirian

Ukbah bin Abi Mu'aith adalah seorang pemuda Quraisy yang baik. Walaupun belum masuk Islam, ia berteman baik dengan Nabi Muhammad Saw. Hampir setiap hari Ukbah bertemu Rasulullah. Sekedar mengobrol atau bertukar pikiran.

"Wahai Muhammad, aku berterima kasih padamu. Engkau sudah bersedia menjadi temanku," kata Ukbah suatu siang. Ukbah gembira bukan main. Siapa yang tak bangga punya teman yang sangat terhormat seperti Muhammad? Yang disebut sebagai Nabi dan Rasul Allah itu? Bukankah Muhammad itu seorang yang agung dan berkedudukan tinggi? Terlebih lagi karena dirinya belum masuk agama yang dibawa Muhammad. Akan tetapi, Nabi Muhammad tidak pernah memusuhinya. Betapa Ukbah merasa bangga dapat berteman baik dengan Nabi Muhammad!

"Muhammad,"kata Ukbah.

"Apakah kau akan datang ke rumahku, jika aku mengajakmu makan bersama di rumahku?"

"Boleh saja. Kalau itu tidak merepotkanmu,"kata Rasulullah. Benar bukan? Muhammad memang sangat baik. Ia menerima undangan Ukbah untuk makan di rumahnya.

Nabi Muhammad pun menepati janjinya memenuhi undangan Ukbah. Di rumahnya, Ukbah sudah menyiapkan hidangan yang istimewa. Aneka makanan yang lezat dan enak sudah disediakan. Ia pun melayani Nabi dengan sangat baik.

Sesudah bercakap-cakap, Ukbah mempersilakan Nabi untuk mencicipi makanan.

"Baiklah, aku ambil yang ini,"kata Nabi seraya meraih makanan di piring.

"Tentu. Silakan pilih apa yang kau suka,"sahut Ukbah.

Sebelum Nabi Muhammad memasukkan makanan ke mulutnya, Nabi Muhammad menoleh pada Ukbah.

"Aku akan memakan makanan dihadapanku ini, kalau kau mau mengucapkan dua kalimah syahadat," kata Nabi kemudian.

Mendengar ucapan Nabi itu, kontan Ukbah terhenyak. Kaget bukan main. Sebab, sejak Muhammad mengajarkan agama baru itu, Ukbah tidak ingin masuk Islam. Sedangkan dua kalimah syahadat adalah pernyataan bahwa seseorang telah masuk Islam. Ia tidak bermaksud meninggalkan agama berhala warisan leluhurnya.

"Bagaimana hai, Ukbah?"tanya Nabi membuyarkan kekagetan Ukbah. Ukbah hanya terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan teman baiknya itu. Nabi Muhammad mengerti sikap Ukbah. Beliau tidak langsung pergi meskipun Ukbah tampak keberatan untuk menuruti permintaannya. Beliau tetap duduk di depan makanan yang terhidang itu.

Wahai Ukbah, apakah aku harus memakan makanan ini atau tidak? Kalau makan berarti kau harus mengucapkan dua kalimah syahadat," ulang Nabi.

Ukbah jadi merenung sejenak. Ah, tak enak rasanya menolak permintaan teman baik seperti Muhammad, batin Ukbah. Dan akhirnya Ukbah pun menuruti permintaan Nabi. Ukbah mengucapkan rukun Islam yang pertama itu. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim.

"Sekarang aku mau menikmati makanan yang kau hidangkan," kata Nabi setelah Ukbah mengucapkan dua kalimah syahadat. Rasulullah sangat puas dengan hidangan yang disuguhkan sahabatnya itu. Lalu, beliau pun berpamitan pada Ukbah.

Beberapa waktu setelah kejadian itu Ukbah bertemu dengan sahabat lamanya, Ubay bin Khalaf. Segera diceritakan pertemuannya dengan Muhammad yang baik hati itu.

"Ubay, aku pun sudah masuk agama Islam,"kata Ukbah.

Ubay amat terkejut. "Bodoh! Ukbah, kau bodoh sekali!

Kenapa kau ikuti ajaran sesat Muhammad?! Muhammad itu seorang pembual besar! Islam yang disebarkannya hanya mengada-ada!" kata Ubay dengan sengit. Sejak dulu ia memang orang yang sangat membenci Nabi Muhammad.

"Apa kau sudah gila? Sampai meninggalkan ajaran nenek moyang kita?" sahut Ubay.

Merasa dirinya diperolok-olok dan dimaki-maki Ubay, hati Ukbah menjadi goyah.

"Hei Ukbah! Kalau kau tidak segera melepaskan ajaran Islam maka kau akan lepas dari ikatan masyarakat Quraisy!" ancam Ubay menakut-nakuti. Ukbah tambah cemas dan ketakutan.

"Ubay, bisakah kau menolongku membebaskan ikatan dua kalimah syahadat yang pernah kuucapkan itu?" tanya Ukbah.

"Ah, itu sih, gampang!" jawab Ubay.

"Datangilah Muhammad. Caci maki dia dan ludahi wajahnya. Kalau kau sudah melakukan semua itu berarti kau telah meninggalkan agama sesat yang dibawa Muhammad!" hasut Ubay.

Dengan tidak memikirkan akibatnya Ukbah pun menuruti perintah Ubay. Ia segera menemui Muhammad di rumahnya. Kemudian tanpa membuang waktu lagi Ukbah mencaci-maki Nabi Muhammad dan meludahi wajahnya.

Sebagai orang yang memiliki sifat penyabar, Muhammad tidak langsung membalas perbuatan Ukbah. Akan tetapi, disambutnya cacian, ludahan, dan penghinaan itu dengan ucapan,"Bila suatu hari kita bertemu lagi maka pedangku akan menebas lehermu," kata Nabi.

Ukbah kemudian meninggalkan tempat itu. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Ubay. Diceritakannya kalau ia sudah melaksanakan perintah Ubay. Sambil tertawa senang Ubay memujinya sebagai orang yang sangat hebat. Namun, meskipun mendapat pujian selangit itu, hati kecil Ukbah merasa sangat terhimpit. Karena ia sudah melakukan perbuatan yang salah pada Muhammad, sahabat terbaiknya. Jiwanya pun jadi tersiksa.

"Hmmm......, kenapa dulu aku menuruti ajakan nabi itu? Tetapi, kenapa juga aku harus menuruti perintah si gila Ubay itu? Ah, hatiku benar-benar jadi kacau....," sesal Ukbah.

Apa yang di ucapkan Nabi Muhammad dulu, akhirnya terwujud juga. Mereka bertemu di kota Madinah. Waktu itu kebetulan Ukbah menjadi tawanan Nabi Muhammad, karena telah kalah dalam perang Badr. Rasulullah kemudian memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk memenggal lehernya.

Malang sekali nasib Ukbah, orang yang tidak mempunyai pendirian. Jiwanya amat mudah dipengaruhi orang lain dan bujukan syetan.
READMORE
 

Kendaraan Seorang Bijak

Matahari di padang pasir terasa membakar kulit. Hanya sesekali angin bertiup dan menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Cukup membuat seorang pemuda kerepotan mengurangi samudra pasir yang membentang luas. Namun, hatinya agak tenang. Unta yang di tungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya sanggup menempuh perjalanan yang jauh. Perbekalan yang dibawanya pun akan cukup membuatnya bertahan selama perjalanan. Masih separuh lagi perjalanan yang harus ditempuh pemuda itu.

"Mudah-mudahan, aku selamat sampai Makkah. Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini kurindukan," katanya penuh harap.

Panggilan rukun Islam kelima itulah yang membulatkan tekadnya. Mengarungi padang pasir yang terik.

Tiba-tiba, pemuda itu menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir.

Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini? Tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh mengundang bahaya.

Pemuda tersebut menghentikan untanya di dekat orang itu. Ternyata, ia seseorang lelaki tua yang berjalan terseok-seok di bawah terik matahari. Lalu, anak muda itu segera turun dari kendaraannya.

"Wahai, Bapak Tua. Bapak mau pergi ke mana?" tanyanya ingin tahu.

"Insya Allah, aku akan ke Baitullah," jawab orang tua itu dengan tenang.

"Benarkah?!" anak muda itu terperanjat. Apa orang tua itu sudah tidak waras? Ke Baitullah dengan berjalan kaki?

"Betul, nak, aku akan melaksanakan ibadah haji," kata lelaki tua itu pula.

"Masya Allah, Baitullah itu jauh sekali dari sini. Bagaimana kalau bapak tersesat atau mati kelaparan? Lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. Kalau berjalan kaki seperti bapak, kapan bapak bisa sampai ke sana?" pemuda itu tercenung.

Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara? Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya?

"Aku juga berkendaraan," kata lelaki tua itu mengejutkan.

Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, pak tua malah mengatakan dirinya memakai kendaraan.

Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki..., pikir si pemuda geli.

"Apa Bapak yakin kalau bapak memakai kendaraan?" tanya pemuda itu menahan senyumnya.

"Kau tidak melihat kendaraanku?" orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya.

"Kalau begitu, apa kendaraan yang bapak pakai?" tanyanya sambil tersenyum.

Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?

"Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama sabar," jawab orang tua itu tenang.

Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut.

"Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah," kata lelaki tua itu melanjutkan.

Mendengar kata-kata tersebut, si pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut.

"Maukah bapak naik kendaraanku? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama," ajak si pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu.

"Terima kasih, Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu," sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya.

Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya.
READMORE
 

Gadis Jujur

Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

"Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini," kata anak perempuan itu.

"Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit."

"Benar anakku," kata ibunya.

"Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak," harap anaknya.

"Hmmm....., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan," kata ibunya.

Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.

"Nak," bisik ibunya seraya mendekat. "Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah."

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

"Tidak, bu!" katanya cepat.

"Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air." Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.

"Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu," gerutu ibunya kesal.

"Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?"

"Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita," kata ibunya tetap memaksa.

"Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!"

"Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya,"tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

"Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,"kata anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
" Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!" gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

" Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya," kata khalifah Umar. " Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat."

Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.

" Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami....," sahut ibu tua ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

"Bagaimana mungkin?
Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?" tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

" Khalifah adalah orang yang tidak ,membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah," kata Ashim sambil tersenyum.

" Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur," kata Khalifah Umar.
Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.
Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

" Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian...," jelas khalifah Umar.

Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.

Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Bebrapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab.
READMORE
 

Qarun Si Pembohong

Pada zaman Nabi Musa a.s, hiduplah seorang yang dianugerahi kekayaan yang berlimpah, Qarun namanya. Ia memiliki rumah yang megah dan indah serta di penuhi barang-barang mewah. Begitu juga sawah dan hewan ternaknya tak terhitung lagi. Bahkan, Qarun punya harta simpanan yang sangat banyak untuk mengangkut kuncinya saja dibutuhkan banyak orang.

Qarun memang seorang yang pandai dan ahli dalam bekerja. Namun sayang, Qarun amat pelit dan kejam. Ia hanya mau memeras tenaga orang-orang untuk memperkaya dirinya tanpa diberi upah. Hanya sedikit makanan dibagikan supaya mereka tidak mati kelaparan.

Qarun senang berjalan-jalan memamerkan kekayaannya sehingga membuat kagum orang yang melihatnya.

"Wah! Sungguh beruntung Qarun! Punya harta yang banyak!"teriak orang-orang

"Kalau saja aku kaya raya seperti Qarun, tentu hidupku akan senang sepanjang masa!" teriak yang lainnya.

Bukan main bangganya Qarun mendengar pujian itu. Ia semakin larut dalam kesombongan.

Suatu siang, utusan Nabi Musa datang menjumpai Qarun. Orang itu menyampaikan pesan Nabi Musa bahwa Qarun wajib memberikan zakat atas hartanya kepada fakir miskin.

"Apa?! Memangnya siapa Musa itu?" Muka Qarun merah padam."Aku mendapat harta kekayaan ini dengan susah payah. Sekarang harus dibagikan pada orang miskin. Enak saja!" kata Qarun marah-marah.

"Hartaku ini kuperoleh dengan kerja keras dan kepandaianku sendiri! Tak ada yang membantuku,"sahut Qarun dengan angkuhnya.

Lalu, Nabi Musa sendiri yang datang ke rumah Qarun untuk menyampaikan kewajiban membayar zakat.

Melihat Musa muncul dihadapannya, entah kenapa Qarun jadi gemetaran. Ia merasa takut pada Musa. Wajah beringasnya berubah ramah sekali.

"Mari! Silakan, saudaraku,"kata Qarun pada Nabi Musa. Ia membungkukkan badannya tanda hormat.

"Tak perlu bermanis muka kepadaku. Benarkah kau menolak memberikan zakat? Allah telah memberimu harta yang berlimpah! Kau harus mengeluarkan zakat bagi fakir miskin.

Sungguh, aku menyuruhmu berzakat atas perintah Allah," kata Nabi Musa.

Qarun amat ketakutan. Ia tidak bisa marah pada Musa.

"O, tentu!" kata Qarun."Akan kusuruh kepala gudang menghitung semua kekayaanku dan mengeluarkan zakatnya."

"Musa pun mempercayai ucapan Qarun. Pengawal dan pembantu Qarun sangat heran melihat sikap Qarun yang pengecut. Dibelakang Nabi Musa, Qarun berani menjelekkannya. Tapi di depan Nabi Musa, ia malah menghormatinya.

Sepeninggal Nabi Musa, Qarun mulai sadar akan kepengecutannya.

"Hmmmm! Aku harus menemui Musa dengan sombong! Aku harus mengembalikan kewibawaanku di depan pembantuku," kata Qarun.

"Aku tidak akan mengeluarkan zakat. Harta yang kupunya bukan untuk dibagikan pada orang miskin!" umpat Qarun.

Keesokan harinya, Nabi Musa menemui Qarun lagi untuk memperingatkan kewajiban berzakat. Kali ini Qarun menyambut Nabi Musa dengan wajah yang sombong. Ia berdiri tegak di depan pintu. Dikenakannya pakaian yang bagus dan perhiasan yang mahal-mahal. Agar kelihatan besar dan Nabi Musa akan merasa rendah dihadapannya.

"Hai Qarun! Kau sudah berbohong padaku. Kemarin kau bilang akan memberikan zakat pada orang miskin, tapi nyatanya kau menolak perintah Allah," kata Nabi Musa.

"Hai Musa! Ketahuilah, semua harta kekayaanku ini kuperoleh dengan kerja keras. Mengapa harus dibagikan pada orang miskin?"bantah Qarun dengan angkuh.

Nabi Musa kini mengetahui kalau Qarun seorang yang munafik. Si pembohong Besar. tak henti-hentinya Nabi Musa mengingatkan akan hukuman Allah bagi orang yang berdusta. Namun, Qarun tetap dalam kebanggan dirinya.

"Aku akan memohon kepada Allah supaya menenggelamkan semua harta kekayaanmu kedasar bumi,"sahut Nabi Musa.

"Ha..ha..ha.....cobalah meminta pada Tuhanmu. Aku tidak takut! Aku banyak memiliki kekayaan yang dapat menolongku,"kilah Qarun. Ia tidak mengindahkan ancaman Nabi Musa.

Nabi Musa lalu berdo'a seraya mengangkat tangannya. Allah mengabulkan do'a Nabi-Nya. Tiba-tiba, tanah yang dipijak Qarun menjadi retak dan terbelah. Rumah megah besrta isinya milik Qarun tenggelam.

"Oh.....tidak! rumahku....., hartaku......tolong.....," Qarun menjerit sedih. Dalam waktu sekejap saja semua kekayaannya amblas ke dalam tanah. Dan Qarun sendiri jatuh ke dasar bumi. Terkubur bersama harta kekayaannya yang banyak itu.

Orang-orang yang dulu berangan-angan mempunyai kekayaan yang banyak seperti Qarun kini menyadari kekhilafannya.

"Sungguh malang! Allah telah menghukum Qarun dan membinasakan seluruh hartanya," kata orang-orang itu. Karena pertolongan Allah, Nabi Musa dan kaumnya selamat.
READMORE
 

Abu Hanifah Yang Taat

Akibat menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. Ulama ahli hukum Islam itu pun di penjara. Sang penguasa rupanya marah besar hingga menjatuhkan hukuman yang berat.

Dalam penjara, ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya sedih bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas memikirkan ibunya. Beliau sedih kerena kehilangan waktu untuk berbuat baik kepada ibunya.

Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama ibunya kembali.

"Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada?" tanya Abu Hanifah.

"Alhamdulillah......ibu baik-baik saja," jawab ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.

Abu Hanifah kembali menekuni ilmu agama Islam. Banyak orang yang belajar kepadanya. Akan tetapi, bagi ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang anak. Ibunya menganggap Abu Hanifah bukan seorang ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya.

Suatu hari, ibunya brtanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Ibunya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.

"Aku tak mau mendengar kata-katamu," ucap ibu Hanifah. "Aku hanya percaya pada fatwa Zar'ah Al-Qas," katanya lagi.

Zar'ah Al-Qas adalah ulama yang pernah belajar ilmu hukum Islam kepada Abu Hanifah." Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,"pinta ibunya.

Mendengar ucapan ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengantar ibunya ke rumah Zar'ah Al-Qas.

"Saudaraku Zar'ah Al-Qas, ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat," kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar'ah Al-Qas.

Zar'ah Al-Qas terheran-heran kenapa ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu? Bukankah Abu Hanifah sendiri seorang ulama? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah.

"Tuan, Anda kan seorang ulama besar? kenapa Anda harus datang padaku?" tanya Zar'ah Al-Qas.

"Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda," sahut Abu Hanifah.

Zar'ah tersenyum," baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda," kata Zar'ah Al-Qas akhirnya.

"Ucapkanlah fatwamu," kata Abu Hanifah tegas.

Lalu Zar'ah Al-Qas pun memberikan fatwa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega.

"Aku percaya kalau kau yang mengatakannya," kata ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar'ah Al-Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.

Dua hari kemudian, ibu Abu Hanifah menyuruh putranya pergi ke majelis Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah agama. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti perintah ibunya. Padahal, ia sendiri dapat menjawab pertanyaan ibunya dengan mudah.

Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan ibunya, Abu Hanifah datang ke majelisnya.

"Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya?" kata Umar bin Zar.

Abu Hanifah tetap meminta fatwa Umar bin Zar sesuai permintaan ibunya.

"Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar," kata Abu Hanifah.

Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan ketaatan Abu Hanifah kepada ibunya.

"Baiklah, kalau begitu apa jawaban atas pertanyaan ibu Anda?"

Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan.

"Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,"ucap Umar bin Zar sambil tersenyum.

Abu Hanifah pulang membawa fatwa Umar bin Zar yang sebetulnya jawabannya sendiri. Ibunya mempercayai apa yang diucapkan Umar bin Zar.

Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menanyakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun beliau seorang ulama yang sangat pintar.
READMORE
 

Cerita dari negri dongeng

Di sebuah negeri antah berantah..eh bukan, di sebuah negeri yang kaya dan makmur, terdapat seorang putri dan seorang pangeran, yang akan mewarisi kerajaan itu. Singkat cerita, mereka akan menikah. Oya, sebut saja sang pangeran bernama Pangeran Ganteng, dan sang putri sebut saja Putri Cantik.

Namun, selalu aja ada halangan untuk menuju jalan yang lurus. Ditengah kebahagiaan mereka, seorang raksasa buruk rupa yang rupanya, raksasa paling sakti disana. Sebut saja ia Raksasa Seram. Nah, sang raksasa yang perkasa ini, berniat jahat dan menculik sang putri. Maka diculiklah sang putri dari pelukan Pangeran Ganteng.

Pangeran Ganteng bingung. Resah dan gelisah. malam pertama impiannya hancur berantakan. Kekasihnya yang ia cintai di culik Raksasa Seram. Lalu, apa yang musti ia kerjakan? untuk melawan sendiri, ia merasa tak sanggup. Ia terlalu lemah untuk itu. Lalu, apa akal? segera dicarinya para ksatria yang perkasa dan kuat di negeri itu untuk membantunya. Lalu, didapatlah seorang ksatria muda nan gagah perkasa, ganteng dan kalem. Sebut saja Ksatria Leak.

Ksatria Leak menyanggupi, dengan syarat yakni anak pertama dari pasangan Pangeran Ganteng dan Putri Cantik menjadi anak dia. Mengingat tak ada pilihan lain, pangeran Ganteng menyanggupi.

Sinkat cerita, ksatria Leak berhasil mengalahkan raksasa Seram dan mengembalikan Putri Cantik kepada sang pangeran. Dan waktu terus bergulir. Sampai setahun kemudian anak pertama mereka lahir. Dan sesuai janjinya, ksatria Leak mengambil anak pertama itu, dan pangeran tganteng merelakannya. Namun, tidak demikian dengan putri cantik. Karena tidak tau dan tidak diberitahu, putri cantik murka. Dan dengan kedudukannya yang lebih kuat dari pangeran ganteng, maka ia mengusir pangeran Ganteng.

Pangeran Ganteng jadi terlunta-lunta kini. Ia, kesana kemari tanpa tujuan. Hatinya resah gundah gulana. Tak tau kemana arah yang musti dituju. Sampai bertemulah ia dengan seorang empu, yang panggil saja Empu Sakti. Lalu, diceritakannya semua kejadian yang dialaminya pada sang empu. Sang empu marah, lalu dikutuklah sang putri menjadi kodok. Jadilah ia putri kodok sekarang.


Nah nah nah,....cerita berakhir disana. Namun, cerita itu tidak mengakhiri perjalanan kawan dari kawanku itu. Ada sebuah pertanyaan yang mengiringinya, yang menentukan di terima atau tidaknya ia instansi itu. Pertanyaannya adalah, "dari beberapa nama yang disebut, siapakah yang menurut anda paling bersalah?"
READMORE
 

JANGAN BENCI AKU, MAMA

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!" Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu.

Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric...
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
"Mary, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." tTpi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangissaya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric... Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.
Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. .. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir
dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?" Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...
"Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...?
Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..." Saya menjerit histeris membaca surat itu.
"Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!"
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi. (kisah nyata di irlandia utara)
READMORE
 

Money

Money can buy a house, but not a home.
Money can buy a bed, but not sleep.
Money can buy a clock, but not time.
Money can buy a book, but not knowledge.
Money can buy food, but not an appetite.
Money can buy position, but not respect.
Money can buy blood, but not life.
Money can buy medicine, but not health.
Money can buy sex, but not love.
Money can buy insurance, but not safety.

~ingatlah, uang bukanlah segalanya. Ada banyak sekali hal lain yang lebih
berharga dari sekedar uang.
READMORE
 

The Law of Life

The tree that never had to fight
For the sun and sky and air and light,
that stood out in the open plain,
And always got its share of rain,
Never became a forest king.

The man who never had to toil,
Who never had to win his share,
Of sun and sky and light and air,
Never became a manly man,
But lived and died as he began.

Good timber does not grow in ease;
The stronger the wind, the tougher trees;
The more the storm, the more the strength;
By sun and cold, by rain and snow,
In tree or man, good timber grows.

Where thickest stands the forest growth,
We find the patriarchs of both,
And they hold converse with the stars,
Whose broken branches show the scars
Of many winds and much strife,

This is the common law of life.
READMORE